Tampilkan postingan dengan label Ilmu Sipil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Sipil. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 November 2011

Bangunan Hijau (Green Building)

Green Building mungkin ketika kita mengartikan dalam bahasa indonesia yang berupa bangunan hijau. Arti yang sebenarnya green building tersebut yaitu sebuah konsep tentang merencanakan suatu bangunan yang ramah terhadap lingkungan.


Konsep serupa adalah natural building, yang biasanya pada skala yang lebih kecil dan cenderung untuk berfokus pada penggunaan material-material yang digunakan yaitu material-material yang tersedia secara lokal. Konsep ini ada untuk dapat memenuhi kebutuhan generasi-generasi berikutnya mulai dari sekarang. 
Konsep green building ini berupa pemaksimalan fungsi bangunan dalam beberapa aspek, yaitu:


1. Life cycle assessment (Uji AMDAL)
Dalam melakukan suatu perencanaan bangunan seharusnya melakukan kajian AMDAL apakah dalam pengadaan bangunan tersebut dapat mempengaruhi lingkungan sekitar baik itu segi sosial, ekonomi ataupun alam sekitar. Karena jika itu memberikan pengaruh yang cukup besar maka bangunan tersebut sudah menyalahi konsep dasar dari green building. 
2. Efisiensi Desain Struktur
Dasar dalam setiap proyek konstruksi bermula padatahap konsep dan desain. Tahap konsep, pada kenyataannya merupakan salah satu langkah utama dalam proyek yang memiliki dampak terbesar pada biaya dan kinerja proyek. Tujuan utama merencanakan bangungan yang memiliki konsep green building adalah untuk meminimalkan dampak yang akan disebabkan bangunan tersebut baik itu selama pelaksanaan dan selama penggunaan. Perencanaan bangunan gedung yang tidak efisien dalam  struktur juga memberikan efek buruk terhadap lingkungan, yaitu pemakaian bahan bangunan yang sangat banyak sehingga terjadi pemborosan. 

3.Efisiensi Energi
Green Building sering mencakup langkah-langkah untuk mengurangi konsumsi energi - baik energi yang  diperlukan untuk kehidupan sehari-hari, seperti kondisi bangunan yang segi mudahnya angin dan sinar matahari yang mudah masuk kedalam bangunan.. Selain itu selain segi operasional, segi pelaksanaan juga harus diperhatikan. Studi LCI US Database Proyek bangunan yang menunjukkan dibangun dengan kayu akan menghasilkan energi pempuangan yang lebih rendah daripada bangunan gedung yang bahan bangunannya menggunakan dengan batu bata, beton atau baja.
Untuk mengurangi penggunaan energi operasi, penggunaan jendela yang se-efisiensi mungkin dan insulasi pada dinding, plafon atau tempat masuknya aliran udara ke dalam bangunan gedung. Strategi lain, desain bangunan surya pasif, sering dilaksanakan di rumah-rumah rendah energi. Penempatan jendela yang efektif (pencahayaan) dapat memberikan cahaya lebih alami dan mengurangi kebutuhan penerangan listrik di siang hari.

Mungkin hal diatas yang telah saya jelaskan masih seedikit dari beberapa konsep green building yang ada, untuk keselanjutannya akan saya posting pada kesempatan berikutnya.  

Sebagai engineer tetap tidak melupakan cost environment  yang ada. Go Green!

Semoga dapat memberikan inspirasi.

Sumber : http://newkidjoy.blogspot.com/2011/05/bangunan-hijau-green-building.html

Green Building : Material Bangunan Hijau

Di dalam konsep green building yang selalu menancapkan asas untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan dalam merencanakan dan mendirikan bangunan, maka dalam segi bahan material di konsep green building yaitu material yang bersifat re-newable ( material yang dapat diperbaharui). Namun bukan berarti keseluruhan material yang digunakan "harus" bersifat re-newable. Penggunaan beton bertulang dan baja masih dapat diperbolehkan, tetapi harus benar-benar direncanakan dengan se-efisien mungkin untuk mengurangi jumlah pemakaian material atau memakai perencanaan penggunaan material yang optimum (ekonomis dan kuat).

Postingan ini hanya menjelaskan tentang umum dari material yang digunakan dalam konsep green building. Untuk penjelasan yang lebih lanjut mungkin akan saya jelaskan pada postingan berikutnya. Berikut Material di dalam konsep green building yang bersifat re-newable:

1. KAYU 
Kayu adalah bagian batang atau cabang serta ranting tumbuhan yang mengeras karena mengalami lignifikasi (pengayuan). Kayu merupakan bahan material yang popular di dalam setiap pembangunan bangunan gedung yang berkonsep dasarkan pada konsep green building. Karena sifat kayu yang merupakan material yang dapat diperbaharui dan Indonesia kaya akan hutan sebagai penghasil kayu dan juga sekarang sudah  dapat merekayasa keawetan kayu untuk dapat bertahan lama dan tahan terhadap cuaca. Selain itu pun penggunaan kayu menghasilkan energi yang lebih sedikit dalam proses konstruksi jika dibandingkan dengan menggunakan material beton bertulang dan baja.

Namun seiring perkembangan jaman yang maju dan banyaknya terjadi penebangan liar yang ada sehingga mengurangi luasan total hutan yang ada di dunia. Kayu yang merupakan bahan material yang dapat diperbaharui sekarang menjadi material yang ketika ditebang akan justru menimbulkan cost effect pada lingkungan. Terjadinya banjir bandang, erosi dan bencana alam yang disebabkan gundulnya hutan yang ada sehingga penggunaan kayu sebagai material konstruksi dipertanyakan.
 2. BAMBU

Bambu merupakan material konstruksi yang sebenarnya sudah kita kenal sejak jaman nenek moyang kita. Tetapi lekatnya pencitraan masyarakat tentaang penggunaan bambu sebagai material untuk "orang-orang miskin" sehingga sedikit orang Indonesia yang menggunakan bambu sebagai material dalam kostruksi. 

Seiring perkembangan jaman yang maju dan timbulnya wacana baru tentang penggunaan kayu yang dapat merusak alam sehingga muncul kembalilah material bambu sebagai material yang memiliki konsep green building. Penggunaan bambu yang didalam masa produksinya yang cepat dan memiliki kekuatan yang kuat terhadap tarik dan tekan, bmbu kini sering digunakan di luar negeri.

Penggunaan dua material tersebut sering digunakan dengan langsung menggunakan material tersebut atau dengan menggabungkan material tersebut dengan material lainnya untuk menambah kekuatan yang dimiliki material tersebut atau menutupi kekurangan yang ada pada material tersebut.

Untuk postingan kali ini mungkin cukup hanya gambaran luas tentang material yang memiliki konsep green building menurut penulis :D. Semoga dapat memberikan sedikit inspirasi buat rekan-rekan.


Liat juga artikel saya mengenai konsep dasar dari green building

Sumber : http://newkidjoy.blogspot.com/2011/06/material-di-green-building-bangunan.html

Green Building: part.2

Melanjutkan dari postingan saya yang pertama mengenai green building part.1. Pada postingan pertama yang menjelaskan mengenai konsep dari green building itu melewati beberapa aspek seperti LCA, efisiensi energi, efisiensi struktur. Kesempatan kali ini akan menjelaskan sama dengan yang sebelumnya yaitu tentang konsep dari green building.

4. Efisiensi Air.
Konsep green building juga memperhatikan mengenai penggunaan air. Sekarang, banyak konsep desain rumah yang mengabaikan tentang penggunaan air. Mostly, rumah-rumah mengandalkan penggunaan air tanah yang berasal dari sumur dangkal ataupun dalam tanpa memberikan maasukan tambahan air kepada tanah yang berakibat turunnya permukaan air tanah dan turunnya permukaan tanah permukaan. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk membuat penyimpanan atau memberikan asupan air kepada tanah di lingkungan yang ada disekitarnya. Solusinya yaitu dengan membuat tandon air penadah hujan di bawah tanah atau membuat sumur resapan penadah air hujan. Sistem penadah hujan yang mana ketika air turun di atas bangunan gedung yang kemudian direkayasa sedemikian rupa sehingga direncanakan air akan berkumpul pada satu tempat dan dialirkan menuju sumur resapan untuk menghindari terjadinya penurunan permukaan air tanah.

5. Efisiensi Material
Berbicara mengenai bangunan maka akan menjurus kepada penggunaan material yang ada. Hal ini ada hubungannya dengan efisiensi dari desain struktur. Selain struktur, segi arsitektural juga diperhatikan seperti penggunaan dinding yang terlalu tebal, penggunaan material yang berat yang memberikan efek pada kekuatan struktur yang lebih dll. Sehingga semakin banyak material yang digunakan maka akan memberikan efek kepada pengeluaran dana, impact terhadap lingkungan, pengeluaran energi dalam konstruksi, dll.

Sekian dulu untuk postingan yang membahas mengenai green building semoga dapat memberikan inspirasi kepada semua orang. Adapun postingan berikutnya yang telah membahas tentang material green building.

Sumber :  http://newkidjoy.blogspot.com/2011/06/green-building-bangunan-hijau-part2.html

Green Building : Pelapis Lantai yang Ramah Lingkungan (Part 1)

Semakin meningkatnya jumlah penduduk yang kemudina meningkatkan pula limbah dari proses konstruksi yang ada. Sehingga sekarang sudah saatnya kita saebagai engineer menggunakan teknologi yang benar-benar memilki sifat tahan lama dan ramah lingkungan.
Rumah-rumah di Indonesia sendiri yang kebanyakan masih menggunakan teknologi kosntruksi yang konvensional dan menghasilkan limbah dan menggunakan bahan yang non renewable. Terutama penggunaan tanah liat dalam konstruksi. Penggunaan tanah liat sendiri yang digunakan untuk batu bata pun juga masih dipakai sebagai bahan utama untuk keramik. 

Namun kini sekarang penggunaan tanah liat sebagai bahan utama pembuatan keramik dapat dikurangi. Penggunaan bahan material yang lebih simple dan ramah lingkungan sudah ada. Linoleum yang merupakan bahan yang diggnakan untuk melapisi lantai rumah sudah dapat menggantikan fungsi keramik.
Karena linoleum yang berfungsi hanya sebagai pelapis, maka linoleum membutuhkan permukaan yang cukup padat dan keras untuk dijadikan sebagai tempatnya. Pemasangan, pelapis lantai linoleum hanya memerlukan permukaan lantai rata, seperti pada lantai semen dan kemudian ditempelkan memakai perekat khusus.
Ketebalan linoleum yang kurang dari  5 mm dan memiliki banyak motif yang dapat dipilih sesuai keinginan kita. Selain itu juga, linoleum mampu menahan panas yang lebih baik daripada plastik dan mampu terurai oleh tanah sehingga penggunaan linoleum akan semakin menghijaukan lingkungan kita.

Sumber :  http://newkidjoy.blogspot.com/2011/11/green-building-pelapis-lantai-yang.html

Sabtu, 26 November 2011

Contoh Perencanaan Pelat Satu Arah (Lanjuatan Perencanaan Struktur Beton Part 2)


Diketahui pelat lantai seperti pada gambar dibawah ditumpu bebas pada tembok bata, menahan beban hidup 150 kg/m2dan finishing penutup pelat (tegel,spesi,pasir urug) sebesar 120 kg/m2. Pelat ini terletak dalam lingkungan kering. Mutu beton fc’ = 20 MPa, Mutu baja fy = 240 MPa (Polos).



Ditanyakan : Tebal Pelat dan Penulangan yang diperlukan.


Penyelesaian:

1. Tentukan tebal pelat (berkenaan syarat lendutan).
Tebal minimum pelat hmin menurut Tabel 1.4, untuk fy = 240 MPa dan pelat ditumpu bebas pada dua tepi adalah :
                                                       hmin =
Tebal pelat ditentukan h = 0,14 m (=  140 mm).
2. Penghitungan Beban-Beban yang terjadi.
qu  = 1,2 qd + 1,6 q1
qd akibat berat sendiri = 0,14 x 2,40          = 0,336 t/m2
qd dari finishing penutup lantai                  = 0,120 t/m2
                                                                                             +
                               Total beban mati qd    = 0,456 t/m2
                               Beban hidup q1           = 0,150 t/m2
                               Beban berfaktor qu  = 1,2 x 0,0,456 + 1,6 x 0,150
                                                                  = 0,7872 t/m2
 

3. Penghitungan Momen-Momen yang terjadi
    Dengan menggunakan koefisien momen, didapat :  
Pada lapangan, Mu  = 1/8 qu L2  = 1/8 x 0,7872 x 3,62
                                   = 1,2753 tm
Pada tumpuan (memperhitungkan jepit tak terduga)
                        Mu  = 1/24 qu L2 = 1/24 x 0,7872 x 3,62
                               = 0,4251 tm
 

4. Penghitugnan Tulangan
Tebal pelat h = 140 mm
Tebal penutup p = 20 mm (pasal 1.3).
Ditentukan diameter tulangan f p = 10 mm
Tinggi efektif  d = h – p – ½ f p
                         = 140 – 20 – ½ . 10 = 115 mm


 



b. Tulangan Tumpuan



























c. Tulangan Pembagi

















5. Gambar Sketsa Penulangan


 




















Itu dulu mungkin untuk contoh soal dari perencanaan pelat satu arah

Sumber : http://newkidjoy.blogspot.com/2011/05/contoh-perencanaan-pelat-satu-arah.html

Perencanaan Struktur Beton (Pelat Lantai part.1) part.2

Untuk merencanakan pelat beton bertulang, disamping harus memperhatikan beban dan ukuran pelat juga perlu diperhatikan jenis tumpuan tepi.
 
1. Bila pelat dapat berputar (berotasi) bebas pada tumpuan, maka pelat dikatakan bertumpu bebas
2. Bila tumpuan mampu mencegah pelat berotasi dan relatif sangat kaku terhadap momen puntir, maka pelat itu dikatakan terjepit penuh  
3.Bila balok tepi tidak cukup kuat untuk mencegah rotasi sama sekali, maka pelat itu terjepit sebagian (terjepit elastis
Menurut bentuk geometri dan arah tulangan cara analisis pelat dibagi menjadi dua yaitu pelat satu arah dan pelat dua arah, yang masing-masing dibahas lebih mendalam pada pasal-pasal berikut. Penjelasan yang pertama ini hanya membahas tentang pelat lantai satu arah. :D

  1.  PELAT SATU ARAH 
Pada Gambar di bawah ini disajikan contoh gambar dari pelat satu arah satu bentang dan pelat dua bentang/ menerus.  









Analisis momen lentur pada pelat satu arah sebenarnya dapat dianggap sebagai gelegar diatas banyak tumpuan.

Selain itu pada SNI-03-2847-2002 mengijinkan untuk menentukan momen lentur dengan menggunakan koefisien momen, asalkan dipenuhi syarat-syarat seperti dibawah ini 
1. Panjang bentang seragam, jika ada perbedaan selisih bentang yang terpanjang dengan bentang sebelahnya yang lebih pendek maksimum 20%.
2. Beban hidup harus <  3 kali beban mati
3.Penentuan panjang L untuk bentang yang berbeda :
     - Untuk momen lapangan, L  =  bentang bersih diantara tumpuan.
     - Untuk momen tumpuan, L  =  rata-rata bentang bersih pada sebelah kiri dan kanan                        tumpuan.   

   
Gambar 1. Koefisien momen pelat satu arah
Untuk dapat lebih memahami analisis perhitungan pelat satu arah, dibawah ini diberikan langkah-langkah perhitungan pelat satu arah sebagai berikut:
1.    Tentukan tebal pelat, dengan syarat batas lendutan (Tabel 1.4).
2.    Hitung beban-beban : beban mati, beban hidup dan beban berfaktor 
3.    Hitung momen akibat beban berfaktor (Tabel 2.1).
       - ρ min < ρ < ρ mak    4.    Tentukan diameter dan jarak tulangan, dengan memperhatikan lebar retak:

        
                



 





Untuk lebih jelas masalah perencanaan pelat lantai satu arah, silahkan lihat postingan yang membahas mengenai contoh soal perencanaan pelat lantai satu arah

sumber :  http://newkidjoy.blogspot.com/2011/03/perencanaan-struktur-beton-pelat-lantai.html

Perencanaan Struktur Beton (Part1)

 Assalamualaikumm. .

Pada postingan saya kali ini akan membahas tentang bagaimana sih caranya kita untuk merencanakan atau mendesain struktur rumah berstruktur beton yang aman??

Tapi sebelum kita langsung ke pokok permasalahan sebaiknya kita mengenal dulu dasar-dasar dari struktur beton itu sendiri. Dalam keseharian kita sering merencanakan struktur beton yang akan direncanakan itu adalah struktur beton bertulang, yang dimana disini di dalam penampang beton yang ada kita memakai tulangan baja yang fungsinya itu sendiri untuk melengkapi kekurangan yang dimiliki beton sebagai struktur penahan beban. Beton yang memiliki nilai kuat tekan yang tinggi namun beton tidak memiliki nilai kuat tarik yang sama dengan nilai kuat tekannya.

Beton hanyalah suatu material yang memiliki nilai kegetasan yang tinggi.  Fungsi tulangan baja disini yang gunanya untuk menambah nilai kuat tarik dari si beton itu untuk membuat sifat beton menjadi sedikit elastis atau beton mampu memiliki nilai kuat tarik yang lebih baik dari sebelumnya.

Tulangan utama biasanya dipasang pada bagian dari struktur beton yang memiliki nilai momen lentur yang besar untuk dapat menahan gaya tarik yang ada dan bahan yang digunakan untuk membuat beton antara lain :

a. Semen

b. Air

c. Pasir

d. Kerikil

e. zat adiktif



Proses pembuatannya beton sendiri dimulai dari mencampurkan antara semen dan air yang dimana akan membentuk pasta, mencampurkan kembali pasta dengan pasir secara bersama-sama dan akan membentuk mortar, dan mortar ditambah kerikil akan membentuk beton. Namun untuk mendapatkan sifat-sifat beton yang lebih spesifik dari beton normal, saat dalam bentuk beton segar beton diberi bahan tambahan.

Bahan-bahan ini dicampur dengan perbandingan tertentu, kemudian dimasukkan ke dalam suatu cetakan/begesting. Setelah beberapa saat kemudian beton segar ini akan mulai mengeras, makin lama semakin keras dan semakin besar kuat tekannya. Dan ini beberapa penjelasan tentang bahan pembentuk dari beton.


a. Semen

Semen bersama air berfungsi sebagai bahan pengikat untuk mempersatukan bahan-bahan pasir dan kerikil menjadi suatu masa yang padat dan kompak

Semen (PC:Portland Cement) diklasifikasikan dalam 5 jenis sebagai berikut :

Jenis I : Semen portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan-persyaratan khusus seperti yang dipersyaratkan pada jenis-jenis lain.

Jenis II : Semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi sedang.

Jenis III : Semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan kekuatan tinggi pada fase permulaan setelah pengikatan terjadi.

Jenis IV : Semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan panas hidrasi rendah.

Jenis V : Semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan tinggi terhadap sulfat.




a. Air

Dalam pembuatan beton, air mempunyai peran yang sangat penting antara lain :

1. Untuk menjamin terjadinya proses hidrasi yang baik di dalam beton.

2. sebagai bahan pelarut, pengencer, dan pelicin agar beton dapat dikerjakan dengan baik.

Air yang dipakai untuk pembuatan beton, tidak boleh mengandung minyak, asam, garam, zat organik atau bahan yang lain yang dapat merusak beton dan baja tulangan.

Bila air yang akan dipakai tersebut diragukan kwalitasnya, maka harus diperiksa di laboratorium. Dan juga bila kita memasukkan air yang terlalu banyak atau kadar air dalam beton tinggi (F.A.S >>) maka justru akan mengurangi nilau kuat tekan dari beton itu sendiri. Kenapa??Karena dalam proses pembentukan beton terjadi proses hidrasi (menguapnya air yang ada di didalam beton). Nah kalau air yang berlebihan maka secara berangsur-angsur air akan menguap dan berubah menjadi udara. Kemudian Udara tersebut secara langsung membentuk pori-pori di dalam tubuh beton tersebut dan akan mengurangi nilai kuat tekan dari beton tersebut.


b. Pasir

Pasir merupakan bahan pengisi, meskipun demikian kwalitas pasir sangat mempengaruhi kwalitas beton.

Pasir adalah agregat yang semua butirnya menembus ayakan berlubang 5 mm. Bahan ini harus memenuhi syarat mutu seperti yang ditentukan dalam SII 0052-80 sebagai berikut:

1. Susunan besar butir mempunyai modulus kehalusan antara 2,50 sampai dengan 3,80.

2. Kadar lumpur atau bagian butir lebih kecil dari 70 mikron, maksimum 5 %.

3. Kadar zat organik ditentukan dengan larutan Na-sulfat 3%, jika dibandingkan dengan warna standar/pembanding tidak lebih tua.

4. Kekerasan butir, jika dibandingkan dengan kekerasan butir pasir kwarsa bangka memberi angka hasil bagi tidak lebih dari 2.

5. Sifat kekal diuji dengan larutan jenuh garam Natrium sulfat bagian yang hancur maksimum 10 %, dan bila dipakai Magnesium sulfat, bagian yang hancur maksimum 15 %.


c. Kerikil

Berdasarkan besar ukuran butir, kerikil adalah agregat yang semua butirnya tertinggal di atas ayakan 5 mm. Kerikil dapat berupa bahan yang diambil langsung dari alam, atau berupa batu pecah.

Ukuran besar butir maksimum kerikil tidak boleh melebihi :

1. 1/5 dari jarak terkecil antara bidang samping dari cetakan.

2. 1/3 dari tebal plat.

3. 3/4 dari jarak bersih minimum antara batang tulangan.

Syarat mutu kerikil yang ditetapkan menurut SII 0052-80 adalah sebagai beriku.

1. Susunan besar butir mempunyai modulus kehalusan antara 6,00 sampai 7,10.

2. Kadar lumpur atau bagian butir yang lebih kecil dari 70 mikron, maksimum 1 %.

3. Kadar bagian yang lemah, diuji dengan goresan batang tembaga, maksimum 5 %.

4. Sifat kekal, diuji dengan larutan jenuh Natrium sulfat, bagian yang hancur maksimum 12 %. Jika dipakai Magnesium sulfat, bagian yang hancur maksimum 18 %.

5. Tidak bersifat reaktif dengan alkali.

6. Tidak boleh mengandung butiran panjang dan pipih lebih dari 20%.


d. Bahan tambah

Pemakaian bahan tambah dalam pembuatan beton mempunyai berbagai tujuan antara lain :

1. Memperbaiki mutu beton.

2. Memudahkan pengerjaan.

3. Mempercepat waktu pengikatan/pengerasan.

4. Memperlambat waktu pengikatan/pengerasan.

5.     dll



1. PROPORSI CAMPURAN

Proporsi campuran yang digunakan harus berdasarkan serangkaian pengujian yang teliti agar didapat kuat desak seperti yang direncanakan untuk mendapatkan nilai kuat tekan yang sesuai dengan nilai kuat tekan rencana.


2. CARA PENGUJIAN MUTU BETON

Persyaratan untuk kuat tekan f¢c harus didasarkan pada hasil pengujian benda uji silinder (diameter 15 cm tinggi 30 cm) di laboratorium.

Apabila didasarkan pada nilai yang didapat dari hasil uji tekan benda uji kubus dengan ukuran sisi 15 cm maka harus dilakukan konversi untuk mendapatkan f¢c dengan rumus sebagai berikut:

f¢c = 0,83 fck (dimana fck adalah kuat tekan beton, MPa, didapat dari benda uji kubus dengan ukuran sisi 15 cm).

Nilai kuat tekan f¢c harus didasarkan pada hasil pengujian benda uji pada umur 28 hari. Apabila didapat data kuat tekan pada umur sebelum 28 hari, maka untuk menentukan harga kuat tekan f¢c pada umur 28 hari, harus digunakan faktor konversi sesuai tabel 1.1 sebagai berikut.

Tabel 1.1. Konversi perbandingan kuat tekan beton pada berbagai umur




Kuat tekan beton yang disyaratkan f¢c yang didapat dari nilai-nilai pemeriksaan harus dihitung dengan rumus:

f¢c = fcr – 1,64 s

dimana :
f¢c : kuat tekan, MPa
fcr  : kuat tekan rata-rata, MPa
s : deviasi standar

3. SIFAT-SIFAT BETON

Sifat mekanik beton dapat diklasifikasikan menjadi :
- Sifat jangka pendek, yaitu kuat tekan, kuat tarik, kuat geser, dan modulus elastisitas.
- Sifat jangka panjang, yaitu rangkak dan susut.

a. Kuat Tekan
Kuat tekan dihitung dari beban tekan maksimum yang dapat ditahan dibagi dengan luas penampang benda uji.

fc = P/A (Mpa)

dimana :
fc : kuat tekan, MPa
P : Beban tekan maksimum yang dapat ditahan, Newton
A : Luas penampang silinder diameter 15 cm, tinggi 30 cm, mm2

Regangan beton pada saat hancur berkisar antara 0,003 sampai 0,004, dan di dalam SNI 1991 ditetapkan 0,003 sebagai dasar analisis tampang.

b. Kuat Tarik

Kuat tarik beton ditentukan dengan percobaat belah tarik silinder beton berdasarkan ASTM – 496.
Gambar 1.2. Diagram tegangan – regangan beton

c. Kuat Geser

Kuat geser beton ditentukan berdasarkan kuat tekan yaitu:

vc = 1/6 Öf’c MPa

dimana :
vc : Kuat geser, MPa
f’c : Kuat tekan, MPa

d. Modulus Elastisitas

Modulus elastisitas beton diambil berdasarkan kuat tekan beton yaitu :

Ec = 4700 Öf’c MPa

dimana : Ec : Modulus elastisitas, MPa
f’c : Kuat tekan, MPa

Modulus elastisitas ini merupakan kemiringan garis singgung dari diagram tegangan-regangan. Biasanya modulus sekan pada 0,5 f’c diambil sebagai modulus elastisitas.

e. Rangkak

Rangkak adalah penambahan regangan terhadap waktu akibat adanya beban yang bekerja.

f. Susut

Susut adalah berkurangnya volume elemen beton dan ada dua macam yaitu susut plastis (susut yang terjadi beberapa jam setelah beton di tempatkan pada cetakan) dan susut pengeringan yang dikarenakan kehilangan uap air

Sumber : http://newkidjoy.blogspot.com/2011/01/perencanaan-struktur-beton-part1.html

SNI 03-1729-2002

SNI 03-1729-2002 ini berisikan tentang tata cara dalam perencanaan struktur baja untuk bangunan gedung.

Tujuannya SNI 03-1729-2002 ini diciptakan adala sebagaih acuan buat para perencana dan pelaksana dalam melakukan pekerjaan operencanaan dan pelaksanaan bangunan yang memiliki perencanaan struktur baja untuk dapat memenuhi ketentuan minimum dan mendapatkan hasil pekerjaan yang aman, nyaman serta ekonomis

Di SNI dijelaskan secara detail tentang syarat-syarat dalam merencanakan struktur baja untuk bangunan gedung.

Untuk lebih detailnya silahkan unduh disini

Sumber :  http://newkidjoy.blogspot.com/2011/01/sni-03-1729-2002.html